Apa Itu Frambusia? Simak Gejala dan Cara Penularan Penyakit yang Bisa Sebabkan Cacat Ini

Apa Itu Frambusia? Simak Gejala dan Cara Penularan Penyakit yang Bisa Sebabkan Cacat Ini

Ilustrasi penyakit frambusia --

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Apakah Anda pernah mendengar tentang frambusia? Gejala utamanya adalah adanya benjolan yang kemudian menyebabkan munculnya keropeng dan luka yang mengeluarkan cairan berwarna kuning.

Untuk mengetahui lebih jelasnya, simak pengertian, gejala, dan cara penularan penyakit frambusia yang akan dibahas dalam artikel ini.

Frambusia yang juga dikenal sebagai pian atau penyakit pinta, adalah penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pertenue.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan, Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K) menjelaskan bahwa frambusia adalah penyakit menular menahun yang kambuhan yang memerlukan perhatian kesehatan yang serius dan pemantauan teratur untuk pengobatan dan pencegahan yang efektif.

Tjandra menjelaskan bahwa frambusia, yang juga dikenal sebagai Patek atau Bubo, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Treponema pertenue. 

BACA JUGA:

Penyakit frambusia ini menyerang lapisan kulit dan tumpul, serta dapat menyebar ke tulang dan persendian jika tidak diobati dengan tepat. 

Frambusia umumnya menyerang anak-anak dan orang dewasa yang tinggal di daerah dengan sanitasi yang buruk dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

Penyakit frambusia ditularkan melalui kontak langsung dengan luka terbuka atau lecet pada kulit seseorang yang terinfeksi. 

Gejala Frambusia

Gejala frambusia biasanya muncul beberapa minggu setelah terinfeksi dan dapat bervariasi dari ringan hingga parah. 

Gejala umum yang sering terjadi antara lain bintik merah pada kulit, borok atau luka yang mudah berdarah, dan pembesaran kelenjar getah bening di sekitar area yang terinfeksi.

Dilansir Radarpena dari Verywell Health, frambusia memiliki dua tahap gejala: awal dan lanjutan. Gejala tahap awal biasanya muncul setelah dua hingga empat minggu atau bahkan 90 hari setelah infeksi. 

BACA JUGA:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: