Tata Acara Manten Tebu, Tradisi Mistis Pabrik Gula

Tata Acara Manten Tebu, Tradisi Mistis Pabrik Gula

Acara Manten Tebu --

Radarpena.co.id, Jakarta - Manten Tebu adalah salah satu tradisi khas dalam industri gula di Indonesia, terutama di Jawa. Upacara ini dilakukan sebelum musim giling tebu dimulai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas panen tebu dan harapan agar proses giling berjalan lancar. tradisi ini memiliki nilai budaya yang kuat karena mencerminkan kearifan lokal serta hubungan erat antara manusia, alam, dan spiritualitas.

 

Secara filosofis Manten Tebu melambangkan pernikahan antara manusia dan alam. Tebu yang akan digiling diperlakukan layaknya pengantin, mencerminkan kesakralan proses produksi gula. Tradisi ini juga mengandung doa dan harapan agar hasil gula melimpah serta para pekerja diberikan keselamatan.

BACA JUGA:Mengenal Tradisi Buka Giling, Adat Pabrik Gula Sejak Dulu Kala, Apa Sih Makna dan Tujuannya?

 Dalam melaksanakan tradisi ini, dua batang tebu dipilih dan ditetapkan sebagai manten, satu sebagai pihak pria yang diberi nama Raden Bagus Rosan, dan lainnya sebagai pihak perempuan yang diberi nama Dyah Ayu Roromanis.

Tebu yang digunakan sebagai manten tak sembarangan dipilih, yakni mesti bibit super, tebu paling bagus. Tebu manten perempuan berasal dari kebun pabrik, sementara tebu manten pria dari milik petani.

BACA JUGA:PTPN I Surabaya Digeledah Bareskrim Polri, Buntut Kasus Korupsi Proyek Pabrik Gula Assembagoes, Ini Hasilnya

Selayaknya acara mantenan besar, segala pernak pernik hajatan dibuat, termasuk acara sosial seperti santunan kepada anak yatim, hingga pagelaran seni rakyat dan pasar rakyat macam pasar malam.

Tebu yang jadi manten diberikan kertas berisi nama masing-masing, dibersihkan, disiram air bunga tujuh macam, dan diiringi oleh sepasang manusia yang memeragakan sebagai manten, lengkap dengan pakaian adat pengantin.

BACA JUGA:Sering Bintangi Film Horor, Erika Carlina Ngaku Ingin Dapat Peran Religius

Kemudian masyarakat akan mengadakan kirab atau arak-arakan dalam tradisi tersebut keliling desa hingga berakhir di pabrik gula. Mesin giling kemudian dinyalakan, dan tebu yang sudah dipilih sebagai manten pun dimasukkan ke mesin giling.

"Tradisi manten tebu ini bukan sekadar acara formal, tapi juga untuk melestarikan dan menghormati leluhur di sekitar kita," tulis Nofi dan Octo.

 

Tradisi ini ditulis Nofi dan Octo sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat pertanian tebu dalam menyambut momen panen, sekaligus meminta hajat kepada Tuhan akan keselamatan saat panen dan penggilingan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: